
Foto: dok. Historie van Bandung
Masih ingat dengan semboyan yang diucapkan Sukarno? “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah” atau yang akrab disingkat dengan akronim “Jasmerah”?
Ya, mengingat sejarah berarti melestarikan ingatan kolektif perihal pertumpahan darah dalam sebuah perjuangan. Merawat ingatan kolektif berarti menguatkan generasi saat ini dalam mengambil sikap dan nilai keberanian masa lalu, kerelaan berkorban, kejujuran dan ketulusan. Semangat tersebut harus terus mengalir dari zaman ke zaman. Sehingga cerminan patriotisme dan nasionalisme yang dimiliki para pahlawan dalam mempertahankan kemerdekaan, dapat terus menitis untuk diaplikasikan bagi kehidupan kita kedepannya.
Semangat positif itu lah yang memayungi salah satu komunitas di Kota Kembang yakni Historie van Bandung. Komunitas ini mengenalkan sejarah dengan cara unik, sehingga memudahkan siapapun untuk melihat peristiwa tempo dulu. Mereka melakukan reka ulang momen-momen penting dalam peristiwa sejarah sesuai dengan kejadiaan aslinya, yang ditampilkan dalam bentuk teatrikal kolosal–bersolek lagak pejuang; lengkap dengan atribut, senjata serta properti pendukung.
“Kita biasanya belajar sejarah itu identik dengan textbook yang hanya bisa dibayangkan saja. Nah, dengan adanya kegiatan reka ulang ini kita bisa memvisualisasikan apa yang ada di benak kita tadi menjadi suatu sosiodrama,” jelas Tanta Bagus Dewanto selaku ketua Historie van Bandung.
Komunitas yang sebagian besar digaungi pegiat sejarah ini tercetus pada akhir 2012. Berangkat dari kecintaannya terhadap sejarah, mereka jadi sering kopi darat yang berujung pada diskusi dan bertukar wawasan tentang revolusi kemerdekaan Republik Indonesia.
Historie van Bandung atau yang akrab dengan singkatan HvB ini memiliki visi untuk menjadikan Bandung sebagai kota wisata perjuangan. Tanta memaparkan, untuk mencapai visinya, HvB senantiasa memberikan edukasi dan informasi perihal peristiwa-peristiwa perjuangan zaman baheula yang dikemas secara menarik.
“Khususnya dalam menyambut perayaan peristiwa historis, ada beberapa kegiatan yang biasa kami lakukan, diantaranya diskusi, pameran dan drama teatrikal. Beberapa kejadian pernah kami reka ulang seperti Peristiwa Bandung Lautan Api, Pertempuran Bojong Kokosan dan Peristiwa Kudeta APRA (Angkatan Perang Ratu Adil),” paparnya.
Dalam hal ini, Historie van Bandung menjadi wadah bagi para pecinta sejarah perjuangan di Kota Bandung dan sekitarntya. Seluruh anggota yang terhimpun dalam komunitas HvB berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda, mulai dari karyawan swasta, mahasiswa hingga pelajar.
Selain itu, komunitas HvB juga melakukan riset secara mendalam. Mereka kerap mencari berbagai macam referensi. Setelah mendapat wawasan untuk memperkuat teatrikal, mereka aplikasikan dengan melakukan reka ulang sesuai peristiwa aslinya. Tak jarang, mereka juga menemui sejumlah saksi mata untuk menyerap ceritanya secara langsung.
“Ada beberapa sumber diantaranya buku sejarah, memoar para pelaku sejarah, video dokumenter, foto dokumentasi dan keterangan para veteran,” tambahnya.
Tanta berharap, dengan adanya kegiatan diskusi, pameran dan teatrikal dari komunitas HvB, masyarakat luas memiliki gambaran dan minat yang lebih untuk mengenal perihal peristiwa sejarah pejuangan pada masa lalu.
“Disamping itu kami juga sedang mempersiapkan program digitalisasi dokumen-dokumen lama khususnya era 1950-an. Sebab, dokumen berbentuk kertas lama-lama akan lapuk dan rusak. Maka, kami mengadakan program tersebut demi menjaga keberadaan arsip untuk generasi mendatang,” pungkasnya.
Jika masih penasaran dengan komunitas HvB, datang saja langsung ke sekretariat di kawasan Museum Mandala Wangsit, Jalan Lembong, Bandung. Komunitas ini aktif di media sosial, mereka kerap mengunggah kegiatan dan membagi informasi perihal peristiwa sejarah di laman Facebook mereka Historie van Bandung.
(Yusham)
Categories: Community