Ippho Santosa Tentang Sedekah dan Otak Kanan

Ippho Santosa 

Tampil rapi namun santai dengan celana jeans, kemeja atau kaos putih dipadu jas hitam adalah ciri khas pria yang dijuluki “Mr. Right” ini. Namanya mulai dikenal luas oleh publik setelah beberapa buku yang ditulisnya menjadi bestseller. Kini, nama Ippho Santosa dikenal publik sebagai pakar otak kanan, penulis mega-bestseller, motivator dan entrepreneur. Ia juga mempelopori pendirian jaringan TK Khalifah, sebuah franchise taman kanak-kanak yang berbasis agama dan entrepreneursip.

Beberapa bukunya yang menjadi bestseller diantaranya adalah “7 Keajaiban Rezeki: Rezeki Bertambah Nasib Berubah Dalam 99 Hari Dengan Otak Kanan”, “Percepatan Rezeki Dalam 40 Hari Dengan Otak Kanan”, “10 Jurus Terlarang! Kok Masih Mau Bersaing Cara Biasa?”, “13 Wasiat Terlarang! Dahsyat dengan Otak Kanan!”, dan “Marketing is Bullshit… Meledakkan Profit dengan Otak Kanan”. Melihat judul buku-buku yang ditulisnya tersebut, wajar jika publik menjulukinya pakar otak kanan.

Selain berpikir dan bertindak dengan otak kanan, hal lain yang sering disinggung oleh Ippho adalah zakat dan sedekah. Menurutnya, zakat adalah proteksi dan sedekah adalah investasi. Dua hal itulah yang selalu ia tekankan dalam buku-buku dan seminar-seminarnya.

Tidak cukup sampai disitu, Ippho juga menulis lagu dan mendirikan kelompok musik Andalus. Lagu-lagu yang ia tulis juga memiliki lirik yang penuh makna. Salah satu contohnya adalah lagu “Muhammad Sebagai Pedagang” yang berpesan untuk mengutamakan kejujuran dalam berbisnis. Baru-baru ini ia juga tampil dalam iklan televisi sebuah operator telekomunikasi.

Saat ditemui dalam seminar 7 Keajaiban Rezeki pada bulan Ramadhan lalu di Bandung, Ippho menuturkan tentang makna dibalik buku, seminar dan lagu-lagunya. Simak petikan wawancaranya di bawah ini..

 

Apa yang menjadi benang merah dari buku-buku dan seminar Anda?

Sebenarnya yang saya tanamkan itu cara berpikir dengan otak kanan saja. Ya, tidak usah terlampau ribet lah. Kalau sakit atau ada masalah jangan terlampau dipikirkan. Justru dengan begitu kita malah menemukan solusinya. Karena kalau kita sakit dan mengeluh, itulah cara-cara kiri, cara-cara realistis. Tapi kalau kita balikkan semuanya, misalnya saat kita sakit kita justru malah bersyukur, itu sebenarnya malah lebih tepat. Termasuk juga soal hutang, belum dikaruniai anak, belum dikaruniai jodoh, atau masalah lain yang seperti itu. Dibalik saja caranya, disyukuri saja.

 

Seperti apakah inti dari menjadi ‘orang kanan’ itu?

Intinya dengan otak kanan ini langkah yang diambil tidak perlu berurutan. Jadi berbeda pendekatannya dengan orang kebanyakan. Kalau orang kebanyakan itu kan langkahnya mesti teratur, berurutan. Punya modal dulu baru buka usaha, kalau ada atasan baru mau bekerja, berkecukupan dulu baru mah sedekah, hal-hal seperti itu. Itulah cara rata-rata yang diambil oleh kebanyakan orang.

 

Alasan dibalik pendirian TK Khalifah?

Basicnya itu memang di TK. Ilmu-ilmu mendasar, nilai-nilai mendasar itu baiknya memang ditanamkan sedini mungkin. Sementara itu pendidikan yang paling dini dan realistis menurut saya ya di TK. Kalau anak sudah mengetahui nilai yang benar, itu akan dia bawa terus sampai kapanpun.Jadi itulah kenapa menurut saya ini adalah pondasi. Basic dari semuanya.

 

 

TK Khalifah kan berbasis agama dan entrepreneurship. Kegiatannya entrepreneurshipnya seperti apa?

Ada kegiatan outing ke tempat-tempat usaha. Kalau TK-TK lain kan outingnya ke kantor pos, kantor pemadam kebakaran, dan semacamnya. Saya malas lah kalau seperti itu. Ada manfaatnya memang, tapi menurut saya tidak seimbang.

 

Kalau kita outing ke tempat-tempat usaha, itu otak pengusahanya terlatih. Jadi dia mentalnya saat berkunjung ke toko itu bukan soal bagaimana dia berbelanja, tapi bagaimana dia menjual. Dan memang semestinya hal ini ditanamkan sedini mungkin. Karena, Nabi Muhammad itu juga mulai menghasilkan uang di usia 8 tahun. Mulai berdagang di usia 12 tahun. Nah, kita selama ini terlambat. Mengenal uang itu terlambat, mengenal perdagangan juga terlambat.

 

Apakah hal itu karena jenjang sistem pendidikan konvensional yang terlalu lama?

Jadi yang terjadi selama ini fokusnya  pada bagaimana berbelanja, bukan bagaimana kita menjual dan menghasilkan. Makanya generasi kita pintar-pintar, jago-jago. Olimpiade fisika saja menang terus.  Ya pintar-pintar semua, tapi miskin-miskin. Tidak kaya-kaya.

 

Pintar saat di sekolah, tapi begitu tiba waktunya untuk mencari uang ternyata tidak pintar ya?

Ya, seperti itulah. Bangga dengan raport, bangga dengan IPK tapi tidak bangga dengan saldo (rekening). Padahal yang penting itu kan saldonya. Jadi IPK memang penting, tapi IPK (Indeks Pendapatan Kumulatif) jauh lebih penting. Mau bahagia dunia akhirat ya harus memakai IPK yang kedua, tidak bisa memakai IPK yang 2,9. Itu tidak bisa.

 

Apakah buku 7 Keajaiban Rezeki hanya diperuntukkan untuk kalangan tertentu saja?

Buku 7 Keajaiban Rezeki ini untuk semua kalangan. Makanya seminarnya bisa menjadi seminar terbesar di Indonesia dan bukunya menjadi terlaris nomer satu di Indonesia. Dari pengusaha, militer, petani, nelaya, professional, guru, sampai artis. Dan ada ribuan yang ikut seminarnya kita. Jadi siapapun yang menginginkan pelipatgandaan ya terapkanlah langkah-langkah 7 Keajaiban Rezeki itu.

 

Lagu “Muhammad Sebagai Pedagang” intinya bercerita tentang cara berdagang yang jujur. Apakah menurut Anda saat ini masih banyak pedagang/pebisnis yang belum menerapkan hal tersebut?

Dalam konteks yang luas, iya. Meskipun banyak juga yang menerapkan. Jadi banyak juga yang jujur, tapi tidak sempurna. Mohon maaf sebelumnya jika ada pembaca yang tersinggung, saya mengambil contoh rumah makan Padang. Kalau rumah makan Padang itu pasti yang punya orang Islam. Kalau kita di luar negeri dan bingung cari makanan halal, tinggal masuk saja ke rumah makan Padang, pasti halal. Di Bali juga demikian.  Banyak hal yang baik disitu, dan menurut saya juga lebih banyak hal baiknya. Tapi, ada juga halal yang kurang baik. Misalnya yang memasaknya kurang jujur, atau kurang transparan.

 

Contoh sederhananya adalah harga. Harga tidak pernah dipajang atau dipampang. Padahal dalam Islam, akad harga itu harus ada. Harga dipasang, orang setuju dengan harga itu, dan terjadilah akad (jual beli). Itulah cara Islaminya.

 

Sekarang kalau kita lihat contoh lainnya, misalnya McDonalds, itu yang punya (menemukan) jelas bukan orang Islam. Tapi di banyak sisi, justru sistemnya banyak yang Islami. Dia pilih burger terbaik, daging terbaik, kalau di Indonesia pasti cari daging yang halal, mengutamakan kebersihan, pelayanannya cepat. Itu kan sangat-sangat Islami.  Dan yang lebih penting lagi, harga terpampang. Itulah akad. Dalam islah, itu sangat jelas. Nah, bisnis yang dikelola oleh orang Islam sendiri, seharusnya bisa lebih daripada itu.

 

Kenapa tiba-tiba Anda bisa menjadi bintang iklan sebuah operator seluler?

Sebenarnya itu mengalir begitu saja. Saya sendiri tidak pernah merencanakan itu. Jadi saat membintangi iklan operator seluler itu, mereka yang menghampiri saya. Karena visinya cocok, akhirnya ya saya terima.

 

Selain itu, banyak juga kejadian-kejadian yang tidak pernah terpikir sebelumnya. Misalnya saat franchise TK Khalifah diambil oleh Shireen Sungkar dan Zaskia Sungkar, itu tidak pernah saya rencanakan. Bahkan saya juga tidak pernah bertemu mereka sampai sekarang. Tiba-tiba mereka ambil, dan mereka kelola, jalankan, ya Alhamdulillah.

 

Kegiatan anda saat ini kan pengusaha, penulis buku, penulis lagu, motivator, pengajar, sampai bintang iklan. Sebenarnya ingin dikenal sebagai apa sih?

Saya ingin dikenal oleh Allah saja, cukup. Kalau memang ternyata terkenalnya saya di TV, di media, atau di seminar itu bisa membawa kebaikan ya it’s ok. Tapi bukan itu yang utama. Kenapa seminar masih tetap jalan di bulan puasa begini, saya tetap datang kesini walaupun haus dan capek, karena justru mengejar setoran amalannya. Karena di bulan Ramadhan ini kalau diam saja itu pahala, apalagi berkata-kata yang baik. Kalau tidur saja itu pahala, apalagi kita bekerja. Pasti pahalanya lebih besar lagi.

 

Dalam buku 7 Keajaiban Rezeki dengan Percepatan Rezeki dalam 40 Hari, apakah ada bagian yang sama?

Persamaannya itu ada pada bagian sedekah. Tapi, di buku Percepatan Rezeki dalam 40 Hari lebih gencar lagi. Kalau di buku 7 Keajaiban Rezeki saya meminta pembaca untuk bersedekah 10%, di buku Percepatan Rezeki dalam 40 Hari saya minta 20%. Ini proses dari diri saya sendiri. Jadi ketika menulis buku 7 Keajaiban Rezeki memang sedekah saya itu baru 10%. Ketika saya memperbesarnya menjadi 20%, ternyata percepatannya juga luar biasa.

3 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s