Risa Saraswati: Berbagi Kisah Unik Melalui Buku dan Lagu

Risa Saraswati

Dua tahun terakhir ini merupakan tahun penuh pencapaian bagi Risa Saraswati. Semuanya berawal pada tanggal 22 Juni 2010, pada saat wanita yang lebih dulu dikenal sebagai vokalis band indie Homogenic ini meluncurkan mini album solo perdananya, Story of Peter. Acara peluncuran albumnya sendiri penuh aura mistis yang pekat, dan makin membuka jati diri seorang Risa yang sebenarnya, yang memiliki kemampuan untuk melihat dan berinteraksi dengan “dunia lain”.

Ya, album tersebut ia dedikasikan bagi lima orang teman masa kecilnya yaitu Peter, William, Hans, Hendrick dan Janshen. Tentunya sangat wajar apabila seorang anak kecil mempunyai banyak teman. Namun dalam kasus Risa, kelima orang temannya tersebut merupakan makhluk dari alam lain yang tidak bisa dilihat oleh mata kebanyakan orang. Merekalah yang menjadi inspirasi terbesar Risa saat membuat album tersebut. Dan konon, mereka pun masih bersama Risa hingga sekarang.

Pada tahun 2011, pencapaian Risa pun bertambah dengan digelarnya konser tunggal bertajuk Mancawarna Sarasvati yang menggandeng sederet musisi lokal yang cukup disegani, serta tampilnya Sarasvati di Esplanade, Singapura. Akhir 2011, Risa resmi menyandang status sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil dan menyusun sebuah buku berjudul Danur yang terbit pada bulan Januari 2012 lalu. Bersamaan dengan rilisnya buku tersebut, Risa pun merilis sebuah single yang juga berjudul Danur.

Melalui buku tersebut, Risa ingin berbagi, menceritakan kisah hidupnya dari sisi yang lain. Sebuah kisah hidup bersama sahabat-sahabatnya dari alam lain, kisah-kisah yang unik dan tidak biasa, dan mungkin sama sekali tidak pernah terbayangkan oleh banyak orang. “Tubuhku begitu kecil saat kutahu kelima sahabatku ternyata onggokan belulang manusia tanpa kepala yang jelas jauh berbeda denganku yang masih bisa berdiri tegap, melangkah bebas, menapaki tanah, dan nyata untuk diraba,” tulis Risa dalam bukunya tersebut.

Pada awal bulan maret lalu, video klip Story of Peter pun dirilis, hampir dua tahun setelah albumnya diluncurkan. Saat menonton video klip ini, kita bisa membayangkan seperti apakah hubungan antara Risa dengan tokoh yang menginspirasi album dan bukunya tersebut. Namun sebelum itu, silakan lanjutkan membaca tulisan ini sampai selesai. Inilah dia petikan wawancara dengan Risa Saraswati, seorang perempuan yang suka berbicara dengan tembok dan pohon.

Sebenarnya, sudah sejak kapan merencanakan untuk membuat buku?

Baru beberapa bulan kebelakang, tepatnya di tahun 2011 setelah sebuah penerbit menawarkan saya untuk menulis serius dalam sebuah buku.

Apakah ada faktor-faktor tertentu yang melatarbelakangi penulisan buku tersebut?

Kebiasaan saya menulis cerita dan pengalaman didalam sebuah blog yang menjadi dasarnya, pihak penerbit menemukan blog saya kemudian membacanya. Kemudian ternyata mereka berpikir bahwa saya bisa menulis, maka jadilah buku ini.

Seperti apa proses dibalik penulisan Danur? Apakah sebelum dirilis buku tersebut telah diedit terlebih dahulu oleh para tokoh didalamnya (Peter dkk.)?

Penulisannya tidak begitu rumit, karena saya seperti menulis sebuah diary dimana semua isinya berdasarkan kisah-kisah yang pernah saya alami. Editan tentu saja dilakukan oleh saya sendiri dan “mereka”, hehehe. Banyak informasi yang baru saya ketahui dari “mereka” setelah serius membukukan kisah “mereka”.

Sebenarnya apakah yang ingin disampaikan oleh Risa melalui Story of Peter dan Danur?

Dalam Story of Peter tidak ada pesan sama sekali, toh saya menulis lagu itu untuk sekedar menggali kenangan antara saya dengan mereka semua. Kalau Danur mungkin berbeda, karena banyak kisah saya maupun kisah mereka yang bisa dibagi dan diambil sisi positifnya bagi pembaca.

Mengapa video klip “Story of Peter” baru dirilis dua tahun setelah albumnya diluncurkan?

Rezeki kami untuk membuat video klip baru muncul sekarang, karena saya dan Sarasvati bukanlah band yang mempunyai kelebihan materi. Kami mendapat penawaran menarik dari sebuah PH yang menawarkan konsep untuk video klip Story Of Peter secara cuma-cuma. Konsepnya asyik dan tak memakan biaya, ya sudah akhirnya jadilah video klip Story Of Peter. Beruntung, waktu tak menjadi masalah besar bagi video klip tersebut, dan responnya luar biasa menyenangkan.

Dengan kesuksesan yang diraih oleh album Story of Peter, apakah hal tersebut menimbulkan beban tersendiri saat mengerjakan karya selanjutnya?

Tidak sama sekali. Semua ini hanyalah bonus yang didapat ketika karya yang saya buat ternyata disukai oleh banyak orang. Selanjutnya saya mencoba tetap berkarya saja. Sejak awal saya tak pernah berharap hal-hal muluk dari Sarasvati, semuanya dibiarkan mengalir saja.

Apakah Risa akan merilis album musik lagi? Apakah single Danur akan termasuk didalamnya?

Rencananya sih tahun ini akan mengeluarkan album baru. Ya, manusia boleh berencana, tapi kreativitas tak bisa dipaksakan. Sejauh ini ada beberapa materi yang sedang diolah bersama teman-teman di Sarasvatimusic, semoga semuanya berjalan sesuai dengan rencana. Lagu Danur? Ada kemungkinan masuk di album baru, dengan aransemen baru.

Setelah membuat mini album yang cukup sukses dan menjadi pembicaraan orang banyak, karya berikutnya yang muncul dari Risa ternyata bukan album musik, melainkan sebuah buku. Kira-kira karya selanjutnya akan berupa apa lagi?

Mungkin saya akan membuat sebuah perguruan silat. Hahahaha (becanda becanda). Sejauh ini yang terpikirkan adalah album dan buku baru. Tunggu saja.

Apakah status sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil pernah menimbulkan kendala ketika akan manggung?

Hahaha.. Tidak, PNS dan panggung adalah 2 dunia yang berbeda untuk saya. Sejauh ini tidak ada yang saling bersinggungan atau bertabrakan, semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Saya suka sekali menjalani keduanya.

Bagaimana dengan penggambaran sosok makhluk halus di film-film horror lokal, apakah cukup akurat?

Akurat ngga yah…. Hmmm…. Hmmm nextttt hihi

Dari sudut pandang orang yang memiliki indra keenam, apakah memiliki kemampuan tersebut terasa menguntungkan atau justru sebaliknya?

Ada sisi menyenangkannya, namun ada sisi yang menyebalkan juga. Sama seperti hal-hal lain, hal tersebut mempunyai 2 sisi yang berbeda, asal kita pandai-pandai mengendalikannya saja. Untuk saya sih awalnya cukup menyebalkan. Tapi mau bagaimana lagi, toh hidup saya menjadi lebih “ramai” dengan adanya mereka. Nikmati sajahhh…

Dengan semua hal yang telah berhasil diraih, apakah “Sarasvati” yang awalnya hanya sebagai proyek iseng ini akan dikembangkan menjadi sesuatu yang lebih serius?

Biarpun saya menyebutnya sebagai proyek iseng, pada kenyataannya penggarapannya digarap dengan cukup serius. Jika memang tidak serius, untuk apa saya terus menyanggupi tawaran panggung dan membentuk sebuah tim untuk management Sarasvati? Ini menunjukkan bahwa Sarasvati telah menjadi lebih dari sekedar proyek iseng bukan?

Photo by: Ricky Arnold

1 reply

  1. jadi kangen temen aku yg punya indra ke enam…tapi terkadang jika bersahabat dengannya terlalu dekat, serem juga..hehe
    thanks ya udah berbagi, artikelnya bagus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s