Hotel Bersolek ‘Heritage Architecture’ di Tanah Jawa

Perkembangan dunia pariwisata di Indonesia saat ini tidak terlepas dari peran sejarah besar yang terjadi di masa silam, sejarah pariwisata di bumi pertiwi memang tak lepas dari peran parah penjajah. Salah satunya adalah ditandai dengan munculnya hotel-hotel di Pulau Jawa. Apalagi sejak dibukanya jalur terusan Suez, makin memudahkan kapal-kapal dari benua Eropa menuju bumi nusantara. Di abad ke-19 inilah kapal-kapal pesiar yang membawa turis-turis dengan dominasi kulit putih asal Eropa datang ke Indonesia untuk berwisata.

Banyak sekali yang jadi pertimbangan seseorang dalam memilih hotel untuk disinggahi. Hotel-hotel bersejarah berikut memiliki nilai jual yang mungkin sulit dimiliki oleh hotel lainnya. Tak heran kadang nilai sejarah ini dijadikan nilai unik yang sangat menjual. Tidak cuma nilai sejarah, hotel bersejarah yang masih bertahan ini juga memiliki arsitektur yang sangat memukau. Yuk, intip beberapa hotel bersejarah yang ada di tanah Jawa.

Hotel Savoy Homann Bidakara, Bandung

43520279

Savoy Homann Bidakara. Foto: Booking.com

Hotel ini awalnya bernama Hotel Homman, sesuai dengan nama pemiliknya yang berasal dari Jerman dan dibangun pada 1871. Hotel ini awalnya terbuat dari bambu sebelum dibangun ulang pada 1880 dengan bata. Namun gedung yang ada kini dibangun pada 1937 oleh arsitek Belanda bernama A.F. Albers dengan gaya art deco. Pada saat itu, nama hotel ini kemudian berubah menjadi Savoy Homman Hotel.

Hotel ini sempat dibeli oleh Panghegar Group sebelum akhirnya dibeli oleh Bidakara Group pada 2000 dan berubah menjadi Savoy Homann Bidakara Hotel. Sama seperti hotel Majapahit, aktor Charlie Chaplin juga pernah singgah di sini saat kunjungannya ke Indonesia.

Terdapat tiga kamar bersejarah di hotel ini yang pernah disinggahi para tokoh bersejarah Konferensi Asia-Afrika pada 1955. Ketiga kamar dengan tipe Jomman Suite ini diberi nama kamar Jawaharlal Nehru (mantan Perdana Menteri India), kamar Soekarno, dan kamar Cho En Lai (mantan Perdana Menteri RRC).

Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta

82752-2

Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta. Foto: Flickr.com

Hotel yang dibangun berkat hasil rampasan perang dengan Jepang ini merupakan gedung tertinggi dan hotel bintang lima pertama di Ibu Kota Jakarta! Hotel ini dibangun untuk menyambut Asian Games keempat pada 1962 dan digunakan untuk menampung para pejabat tinggi yang mendampingi para atlet yang berkompetisi saat itu dan juga beberapa atlet.

Hotel ini awalnya bernama Hotel Indonesia sebelum berubah menjadi Hotel Indonesia Kempinski saat pergantian pengelola menjadi Kempinski Group. Hotel yang digagaskan oleh Presiden Soekarno ini memiliki restoran yang melegenda bernama Signatures Restaurant yang sering disinggahi kelurga Presiden Soekarno untuk bersantap makan bersama.

Sebuah meja favorit Presiden Soekarno-pun ada di salah satu sudut restaurant ini dan dihiasi foto Presiden saat bersama John F. Kennedy.

Hotel Salak The Heritage, Bogor

front

Hotel Salak The Heritage, Bogor. Foto: Hotelsalak.co.id

Hotel Salak The Heritage adalah salah satu hotel peninggalan kolonial Belanda. Awalnya, hotel favorit para Belanda yang menghuni Batavia ini diberi nama Belleveu Dibbets. Dibangun pada 1856, hotel ini dibangun sebagai hotel peristirahatan. Tak heran mengingat Bogor dulu dijuluki Buitenzorg yang berarti kota untuk beristirahat dalam bahasa Belanda, hotel ini juga kerap menjadi tempat bertemunya pada pemilik kebun dan pekerja pemerintahan karena Buitenzorg juga merupakan pusat penelitian flora tropis Jawa serta perkebunan.

Hotel ini sempat dijadikan markas Militer Jepang pada masa pendudukannya. Hingga pada 1948 kembali difungsikan sebagai hotel dengan nama Hotel Salak sebelum pada 1998 berganti nama menjadi Hotel Salak the Heritage dan dilakukan pembangunan beberapa gedung baru. Gedung asli hotel ini kemudian menjadi bagian wajah hotel disebut sebagai Colonial Floor.

Hotel Majapahit, Surabaya

46098196_2013590935369104_516394792855273472_o.jpg

Hotel Majapahit, Surabaya. Foto: Laman Akun Hotel Majapahit Surabaya managed by AccorHotels

Berbicara tentang hotel bersejarah tak bisa lepas dari hotel satu ini. Sejak dibangun di tahun 1910 hingga saat ini, bangunan tersebut tetap berfungsi sebagai hotel, walaupun pemerintahnya silih berganti. Awalnya, hotel tersebut dibangun dengan nama Oranje Hotel oleh Lucas Martin Sarkies asal Armenia. Di tahun 1936, hotel tersebut direnovasi dengan tambahan sentuhan art deco.

Akibat Perang Dunia II,  Jepang menguasai tanah Indonesia. Oranje Hotel pun diambil alih dan berganti nama menjadi Yamato Hoteru. Nah, di tahun 1945, sebuah peristiwa bersejarah mengambil tempat.
Hampir tak ada orang Indonesia yang tak mengenal kejadian perobekan kain biru bendera Belanda menjadi bendera merah-putih. Saat itu, pagi hari di 19 September 1945, Mastiff Carbolic mengibarkan bendera Belanda. Masyarakat Indonesia yang melihat bendera itu pun marah dan naik ke atas hotel. Bendera Belanda  diturunkan, lalu warna biru dirobek. Bendera Merah Putih pun dikibarkan.
Sampai saat ini, Hotel Majapahit berdiri kokoh dan menjadi salah satu tujuan wisata penggemar sejarah di Surabaya. Di hotel ini, terdapat kamar bersejarah yaitu kamarnya Charlie Chaplin. Aktor kondang itu pernah menginap di tahun 1936. Kamar tersebut diberi nama Kamar Merdeka dengan nomor kamar 33.

(adm)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.