Dunia Selepas Virus Corona

oleh Yuval Noah Harari

Diterjemahkan dari Yuval Noah Harari: the world after coronavirus

Penerjemah: Prima Sulistya

f9f89970-6a11-11ea-a6ac-9122541af204

(Photo: Ft.com/© Graziano Panfili)

Umat manusia kini menghadapi krisis global. Bisa jadi krisis terbesar di generasi kita. Keputusan individu dan para pemerintah beberapa minggu ke depan mungkin akan membentuk bagaimana dunia di tahun-tahun mendatang. Mereka akan membentuk bukan hanya sistem kesehatan kita, melainkan juga ekonomi, politik, dan budaya kita. Kita harus bertindak cepat dan yakin. Kita juga harus menimbang akibat jangka panjang dari tindakan saat ini. Ketika memilih jalan keluar yang mana, kita harus bertanya ke diri sendiri bukan hanya bagaimana ancaman saat ini, melainkan juga dunia macam apa yang ingin kita huni selepas badai ini berlalu. Ya, badai pasti berlalu, umat manusia akan bertahan, sebagian besar dari kita akan tetap hidup—tapi kita akan tinggal dunia yang telah berbeda.

Akan ada langkah mengatasi kedaruratan yang menjadi bekal hidup selanjutnya. Itulah watak kedaruratan. Mereka mempercepat proses sejarah. Keputusan-keputusan yang di masa normal butuh pertimbangan bertahun-tahun sekarang akan diputuskan dalam hitungan jam. Teknologi yang belum matang dan bahkan berbahaya akan dipaksa pakai karena jika tidak berbuat apa-apa, risikonya lebih besar. Semua negara kini adalah kelinci percobaan di eksperimen sosial skala besar. Apa yang akan terjadi ketika semua orang bekerja dari rumah dan hanya berkomunikasi jarak jauh? Apa yang akan terjadi ketika semua sekolah dan kampus di-online-kan? Di masa normal, pemerintah, perusahaan, dan pemangku kebijakan pendidikan tidak akan setuju untuk melakukan eksperimen semacam ini. Tapi sekarang bukan masa normal.

Di masa krisis ini, kita menghadapi dua pilihan penting. Pilihan pertama pengawasan totaliter atau penguatan warga negara. Pilihan kedua isolasi nasionalis atau solidaritas global.

Diawasi di bawah kulit

Untuk menghentikan epidemi, seluruh penduduk harus tunduk pada sejumlah arahan. Ada dua jalan utama untuk mencapai ini. Metode pertama ialah pemerintah memonitor orang, dan menghukum siapa saja yang membangkang. Hari ini, untuk kali pertama dalam sejarah manusia, teknologi membuat semua orang bisa dimonitor sepanjang waktu. Lima puluh tahun lalu, KGB bukan cuma tidak bisa mengikuti ke-240 juta warga Soviet 24 jam sehari, andai pun bisa KGB tak mampu efektif mengolah semua informasi yang terkumpul. KGB mengandalkan manusia sebagai agen dan analis, dan mustahil menugaskan seorang agen manusia untuk mengikuti setiap warga. Tapi pemerintah sekarang bisa mengandalkan alat sensor yang disebar di mana-mana dan algoritma yang luar biasa, alih-alih hantu-hantu berdarah daging.

Sejumlah negara dalam pertarungan mereka melawan epidemi virus corona telah mengerahkan alat-alat pengawasan model baru. Contoh paling mencolok tentu China. Pemerintah China memantau betul ponsel pintar orang-orang, menggunakan ratusan juta kamera pengenal wajah, dan mewajibkan orang untuk memeriksa serta melaporkan suhu tubuh dan kondisi kesehatan mereka, yang berkat itu mereka tidak hanya cepat mengidentifikasi pembawa virus corona, melainkan juga bisa menelusuri pergerakan mereka dan mengidentifikasi dengan siapa saja mereka bersinggungan. Beragam aplikasi ponsel bisa memberi tahu seberapa jauh jarak dengan pasien positif.

Teknologi seperti ini tidak cuma di Asia Timur. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu baru-baru ini mengizinkan Agen Keamanan Israel memasang di mana-mana teknologi pengawasan yang normalnya dipakai melawan teroris, kali ini untuk menelusuri jejak pasien virus corona. Ketika komisi berwenang di parlemen menolak kebijakan ini, Netanyahu menerabasnya dengan mengeluarkan “dekrit kedaruratan”.

Anda mungkin bilang ini bukan hal baru. Toh beberapa tahun belakangan pemerintah dan perusahaan besar telah memakai teknologi yang lebih canggih untuk mengikuti, memonitor, dan memengaruhi orang. Tapi ketika kita tak hati-hati, epidemi kali ini bisa jadi patok penting dalam sejarah pengawasan. Alat pengawasan besar-besaran yang dulu ditolak di sejumlah negara, kini bisa dimaklumi, dan lebih jauh, akan ada peralihan dramatis dari “pengawasan di atas kulit” menjadi “pengawasan di bawah kulit”.

Sebelumnya, ketika jari Anda menyentuh layar ponsel pintar dan mengeklik sebuah link, pemerintah ingin tahu apa yang Anda klik. Dengan adanya virus corona, fokus kepentingannya berubah. Sekarang pemerintah ingin tahu suhu jari Anda dan tekanan darah di bawah kulit jari Anda.

Puding masa darurat

Salah satu masalah ketika kita berpihak pada kebijakan pengawasan adalah, kita semua tidak tahu bagaimana kita diawasi, dan apa yang akan diakibatkannya di tahun-tahun mendatang. Teknologi pengawasan sedang dikembangkan dalam laju yang membahayakan, dan apa yang 10 tahun lalu terlihat seperti fiksi sains, sekarang sudah berita basi. Bayangannya seperti ini, coba pikirkan satu pemerintah yang mewajibkan semua warganya memakai gelang biometrik pemantau suhu tubuh dan detak jantung 24 jam sehari. Datanya akan ditumpuk dan dianalisis algoritma pemerintah. Algoritma itu akan tahu kapan Anda sakit bahkan sebelum Anda sendiri tahu, dan mereka juga akan tahu Anda ke mana dan bertemu siapa. Dengan cara ini rantai infeksi akan diperpendek dengan drastis, dan bahkan bisa dihentikan seketika. Sistem seperti ini masuk akal untuk dipakai menghentikan epidemi dalam hitungan hari. Kedengaran luar biasa, bukan?

Tentu saja ada kelemahan, yakni akan ada legitimasi bahwa sebuah sistem pengawasan yang mengerikan memang perlu. Ketika Anda tahu bahwa saya memilih mengeklik link Fox News daripada CNN, Anda bisa menyimpulkan sesuatu tentang pandangan politik dan mungkin juga kepribadian saya. Apalagi kalau Anda bisa memonitor suhu tubuh, tekanan darah, dan detak jantung saya ketika saya menonton sebuah video, misalnya. Anda bisa menyimpulkan apa yang membuat saya tertawa, menangis, atau sangat-sangat marah.

Penting sekali untuk mencamkan bahwa marah, senang, bosan, dan cinta adalah fenomena biologis sebagaimana demam atau flu. Teknologi yang bisa mengidentifikasi flu juga bisa mengidentifikasi tawa. Kalau perusahaan besar dan pemerintah mulai memanen data biometrik kita secara massal, mereka akan mengenali diri kita lebih baik daripada kita sendiri, dan mereka akan bisa, tidak hanya memperkirakan perasaan kita, tapi juga mengaruhi perasaan kita itu dan kemudian menjual kepada kita apa pun yang mereka mau—entah itu sebuah produk atau seorang politisi. Pemantauan biometrik akan membuat taktik hacking data Cambridge Analytica terlihat seperti sesuatu dari zaman batu. Bayangkan Korea Utara tahun 2030, ketika semua warga harus memakai gelang biometrik 24 jam sehari. Anda sedang mendengarkan pidato Pemimpin Besar dan gelang itu menangkap tanda-tanda kemarahan Anda, habis sudah.

Anda tentu saja bisa memakai kasus pengawasan biometrik sebagai solusi sementara selama masa kedaruratan saja. Ia akan dihentikan begitu kedaruratan selesai. Tapi “solusi sementara” punya tabiat buruk, yakni menjadi terus-menerus, apalagi ketika kedaruratan baru selalu mengintai di tepi langit. Negara asal saya Israel, sebagai contoh, mengumumkan situasi darurat saat Perang Kemerdekaan 1948 terjadi, dan hal itu membuat kebijakan sementara seperti sensor pers, perampasan wilayah, sampai aturan khusus memasak puding (saya tidak bercanda). Perang Kemerdekaan itu telah lama dimenangkan, tetapi Israel tak pernah mengumumkan bahwa kedaruratan sudah selesai, sehingga akibatnya sejumlah kebijakan “sementara” 1948 tak lagi sementara (dekrit darurat memasak puding dengan murah hati akhirnya dihapuskan tahun 2011).

Jikalau infeksi virus corona sudah turun ke angka nol, pemerintah-pemerintah yang lapar data bisa saja beralasan mereka perlu mempertahankan sistem pengawasan biometrik untuk jaga-jaga dari virus corona gelombang kedua, atau beralasan ada kasus virus ebola baru yang sedang berkembang di Afrika tengah, atau beralasan… apa saja yang terpikir. Bertahun-tahun perang besar melawan privasi data warga telah membuncah. Krisis virus corona bisa menjadi titik baliknya. Yakni ketika orang diberi pilihan privasi atau kesehatan, mereka biasanya memilih kesehatan.

Polisi cuci tangan

Pertanyaan “privasi atau kesehatan”, nyatanya, adalah akar terdalam problem saat ini. Karena ini pertanyaan yang salah. Kita bisa dan harus bisa mendapatkan privasi sekaligus kesehatan. Kita bisa melindungi kesehatan kita dan menghentikan epidemi virus corona tanpa perlu menegakkan rezim pengawasan yang totaliter, melainkan dengan memperkuat warga negara. Di minggu-minggu terakhir, usaha-usaha tersukses menyetop epidemi virus corona telah diorkestrasikan Korea Selatan, Taiwan, dan Singapura. Mereka memakai aplikasi untuk menelusuri penyebaran virus ini, tetapi mereka lebih mengandalkan tes yang menyeluruh, laporan yang jujur, dan masyarakat yang mau bekerja sama karena terinformasi dengan baik.

Monitoring terpusat serta hukuman kejam bukan satu-satunya cara untuk membuat orang patuh pada arahan penting. Ketika orang diberi tahu fakta sainsnya, dan ketika orang percaya bahwa pejabat mengatakan yang sebenarnya, warga bisa melakukan tindakan yang benar tanpa perlu diawasi Big Brother. Penduduk yang dimotivasi dan diberi infomasi yang baik biasanya lebih berdaya dan tangkas ketimbang masyarakat yang bebal dan kebanyakan diatur.

Ambil contoh kasus cuci tangan pakai sabun, salah satu kemajuan terbesar dalam sejarah kebersihan manusia. Tindakan sederhana ini telah menyelamatkan jutaan nyawa tiap tahunnya. Kita merasa kebiasaan ini dari dulu memang sudah ada, padahal ilmuwan baru menemukan manfaat cuci tangan pakai sabun pada abad ke-19. Sebelumnya, bahkan dokter dan perawat berpindah dari satu operasi ke operasi selanjutnya tanpa cuci tangan. Hari ini, miliaran orang cuci tangan setiap hari, bukan karena mereka takut ada polisi cuci tangan, tapi karena mereka sadar manfaatnya. Saya mencuci tangan karena saya tahu soal virus dan bakteri, saya mengerti organisme kecil ini menyebabkan penyakit, dan saya tahu sabun bisa menghilangkan mereka.

Tapi untuk sampai di level penerimaan dan kerja sama seperti itu, dibutuhkan kepercayaan. Orang harus percaya sains, percaya pejabat, percaya media. Selama beberapa tahun terakhir, politisi-politisi tak bertanggung jawab telah merongrong kepercayaan pada sains, pejabat publik, dan media. Sekarang, politisi-politisi tak bertanggung jawab itu pula yang bisa tergoda untuk masuk ke jalan tol menuju otoritarianisme, dengan alasan bahwa kita tak bisa percaya saja masyarakat akan melakukan tindakan yang benar.

Normalnya, kepercayaan yang sudah terkikis bertahun-tahun tidak mungkin dibangun dalam semalam. Tapi sekarang bukan masa normal. Di tengah krisis, pikiran pun bisa cepat berubah. Anda bisa berselisih paham dengan adik-kakak bertahun-tahun, tapi saat kedaruratan datang, Anda seketika menemukan cadangan kepercayaan dan kebersamaan yang selama ini tersembunyi, dan kalian akan bergegas menolong satu sama lain. Daripada membangun rezim pengawasan, belum terlambat untuk membangun kembali kepercayaan orang pada sains, pejabat, dan media. Kita tetap akan memakai teknologi baru, tapi teknologi itu untuk memperkuat masyarakat. Saya setuju ada monitoring suhu tubuh dan tekanan darah, tapi data tersebut tak boleh dipakai untuk menciptakan pemerintah yang serba-berkuasa. Daripada itu, data tersebut harusnya membuat saya bisa tahu keputusan apa yang diambil, juga untuk mengawasi pemerintah ketika mereka mengambil keputusan.

Jika saya bisa memantau kondisi kesehatan saya 24 jam sehari, saya bukan hanya bisa tahu apakah saya berbahaya bagi kesehatan orang lain, melainkan juga perilaku apa yang bisa memengaruhi kesehatan saya. Dan jika saya dapat mengakses dan menganalisis statisitik tepercaya soal penyebaran virus corona, saya akan mampu menentukan kapan pemerintah mengabarkan kebenaran dan kapan mereka mengadopsi kebijakan yang tepat untuk melawan epidemi ini. Kapan pun orang membicarakan pengawasan, ingatlah, teknologi pengawasan yang sama bisa dipakai pemerintah untuk mengawasi warga, dan dipakai warga untuk mengawasi pemerintah.

Dengan demikian epidemi virus corona ini adalah tes penting tentang konsep kewarganegaraan. Di hari-hari ke depan, tiap-tiap kita harus memilih untuk percaya data saintifik dan ahli kesehatan daripada teori konspirasi tak berdasar dan politisi yang memikirkan dirinya sendiri. Jika kita salah memilih, karena berpikir itulah satu-satunya cara menjaga kesehatan kita, kebebasan kita yang paling berharga mungkin akan sirna.

Kita butuh rencana global

Pilihan penting kedua yang kita hadapi adalah isolasi nasionalis atau solidaritas global. Epidemi dan dampaknya pada krisis ekonomi sama-sama masalah global. Keduanya bisa diselesaikan dengan efektif hanya lewat kerja sama global.

Pertama dan terutama, kita perlu membagi informasi secara global untuk mengalahkan virus ini. Inilah peluang besar manusia yang tidak dimiliki para virus. Virus corona di China dan virus corona di AS tidak bisa berbagi info bagaimana caranya menginfeksi manusia. Tapi China bisa mengajar AS banyak pelajaran berharga tentang virus corona dan cara mengatasinya. Apa yang seorang dokter Italia temukan di Milan paginya, bisa saja menyelamatkan nyawa di Teheran pada malamnya. Ketika pemerintah Inggris ragu-ragu, mereka bisa minta saran kepada pemerintah Korea Selatan yang telah menghadapi masalah yang sama persis sebulan lebih dulu. Tapi agar semua ini bisa terjadi, kita butuh semangat kerja sama dan kepercayaan secara global.

Antarnegara harus bersedia terbuka berbagi informasi, rendah hati meminta nasihat, dan mempercayai data dan wawasan yang diterima. Kita juga butuh kerja global untuk memproduksi dan mendistribusikan perlengkapan medis, terutama alat tes dan alat bantu pernapasan. Daripada masing-masing negara mencoba bekerja sendiri-sendiri dan menimbun apa pun perlengkapan yang bisa didapat, sebuah kerja sama global yang terkoordinir justru bisa mempercepat produksi alat yang dibutuhkan dan memastikannya terdistribusi dengan adil. Seperti cara negara menasionalisasi perusahaan-perusahaan “kunci” ketika perang, dalam perang manusia vs virus corona kita butuh memanusiawikan alur produksi yang krusial ini. Negara kaya dengan lebih sedikit kasus virus corona harus mau mengirim alat mereka yang berharga ke negara yang lebih miskin tapi punya banyak kasus. Mereka harus yakin jika nanti mereka butuh bantuan, negara lain pun akan menolong.

Kita harus mempertimbangkan kerja sama global untuk mengumpulkan tenaga kesehatan. Negara yang saat ini tak terlalu terdampak bisa mengirim tenaga kesehatannya ke belahan dunia yang paling terpukul, dengan dua tujuan, yakni membantu di waktu paling mendesak, serta mengumpulkan pengalaman berharga. Jika kemudian pusat epidemi bergeser, bantuan pun akan berubah sebaliknya.

Kerja sama global juga vital dibutuhkan di bidang ekonomi. Berpegang pada sifat ekonomi global dan sifat rantai pasokan, ketika masing-masing pemerintah cuma mengerjakan kepentingannya sendiri tanpa memedulikan negara lain, hasilnya adalah kekacauan dan krisis yang makin parah. Kita butuh rencana aksi skala global, dan kita butuh secepatnya.

Kebutuhan lain adalah dibuatnya kesepakatan global tentang perjalanan. Menangguhkan semua perjalanan internasional selama berbulan-bulan akan menimbulkan kesukaran yang luar biasa, dan malah menghambat perang melawan virus corona. Negara-negara perlu bekerja sama untuk mengizinkan setidaknya sejumlah kecil orang penting untuk melintasi perbatasan: ilmuwan, dokter, wartawan, politisi, dan pengusaha. Ini baru bisa terjadi ketika ada kesepakatan global mengenai pemeriksaan sebelum berangkat di negara asal. Jika hanya penumpang yang sudah diperiksa dengan cermat yang boleh naik pesawat, orang tentu lebih mudah menerima kedatangan mereka.

Sayangnya, negara-negara sekarang berat untuk melakukan itu semua. Kelumpuhan kolektif sedang menghinggapi warga dunia. Seakan dunia adalah satu ruangan dan tak ada orang dewasa di dalamnya. Mestinya rapat darurat antara para pemimpin dunia sudah dilakukan berminggu-minggu lalu, dengan hasil sebuah rencana aksi bersama. Tapi para pemimpin G7 baru merencanakan videoconference minggu ini, dan tak ada hasilnya juga.

Di krisis global terdahulu—seperti krisis finansial 2008 dan epidemi ebola 2014—AS menjalankan peran sebagai pemimpin dunia. Tapi pemerintah AS sekarang sudah meninggalkan peran itu. Jadi jelas mereka memang lebih peduli kebesaran Amerika ketimbang masa depan kemanusiaan.

Pemerintah Amerika telah meninggalkan sekutu-sekutu terdekatnya. Ketika mereka melarang semua kedatangan dari Uni Eropa, mereka bahkan tak repot-repot memberi tahu Uni Eropa dulu—apalagi mendiskusikan kebijakan drastis ini dengan Uni Eropa. Mereka bahkan membuat skandal dengan, diduga, membeli hak monopoli produksi vaksin Covid-19 seharga 1 miliar dolar AS ke sebuah perusahaan farmasi Jerman. Meskipun pemerintah AS sekarang sudah mengubah sikap dan mengajukan rencana aksi global, hanya sedikit yang mau mengikuti pemimpin jenis tak bertanggung jawab, tak mau mengakui kesalahan, dan secara rutin mengklaim kesuksesan sebagai sumbangsihnya sementara kesalahan ditimpakan ke pihak lain.

Jika kekosongan yang ditinggalkan AS tak diisi negara lain, bukan cuma makin sulit menghentikan epidemi ini, hubungan internasional juga akan rusak di tahun-tahun mendatang. Namun, setiap krisis adalah juga kesempatan. Kita mesti berharap epidemi ini akan menolong umat manusia menyadari bahayanya perpecahan global.

Kemanusiaan kita butuh membuat pilihan. Akankan kita terus di jalan perpecahan ini, atau kita akan mengambil jalan solidaritas global? Jika memilih perpecahan, krisis ini akan semakin panjang, dan mungkin akan berlanjut dengan bencana lebih parah di masa depan. Jika kita memilih solidaritas global, kemenangan tak hanya atas virus corona, tapi juga atas semua epidemi global yang akan datang beserta krisis-krisis yang bakalan menghantam umat manusia di abad ke-21.


Artikel Yuval Noah Harari: the world after coronavirus dalam laman Facebook Prima Sulistya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.