“Laki-laki gak boleh nangis!” Kenali Ciri-ciri dan Efek Negatif Toxic Masculinity

Foto: Kat Jayne/Pexels

“Cowok kok nangis?”

“Halah, masa sih cowok galau. Cemen!”

“Ah, lemah… laki-laki itu harus kuat dong!”

Mungkin kamu sudah sering mendengar kalimat di atas, bukan? Atau jangan-jangan malah kamu sendiri yang sering melontarkan kalimat itu semacam itu? Jika iya, berarti kamu sedang dikuasi toxic masculinity atau maksulinitas toksik.

Apa itu toxic masculinity/maskulinitas toksik?

Toxic masculinity atau maskulinitas toksik adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan laki-laki dan bagaimana mereka bisa menjadi ‘laki-laki” yang sesungguhnya. Hal ini banyak terjadi di dalam hubungan kerja, sekolah, bahkan percintaan.

Laki-laki melakukan tersebut karena telah ditentukan oleh gagasan stereotip masyarakat patriarkal. Banyak dari kita cenderung memberi tahu anak laki-laki kita bagaimana mereka tidak boleh menyerah pada emosi mereka dan harus bertindak seperti laki-laki.

Toxic masculinity merupakan istilah yang dibuat oleh seorang psikolog bernama Sheperd Bliss pada tahun 1990. Menurutnya, istilah ini digunakan untuk memisahkan dan membedakan nilai positif dan negatif dari laki-laki. Dari penelitian yang dilakukan olehnya, ia menemukan adanya efek buruk dari maskulinitas. Ross-Williams berpendapat juga bahwa toxic masculinity, seperti yang tadi sudah dijelaskan, merupakan konstruksi sosial dari masyarakat patriarkis bahwa kemaskulinan seseorang didasari oleh perilaku-perilaku yang represif dan haus akan dominasi.

Ciri-ciri toxic masculinity:

Cukup banyak hal-hal sepele yang kerap dilakukan para laki-laki yang termasuk ke dalam perbuatan toxic masculinity tapi secara tidak langsung disadari oleh mereka.

  • Jika menangis dianggap bukan laki-laki sejati
  • Sering mengejek teman laki-laki yang galau karena masalah cinta
  • Selalu menganggap dirinya harus dominan dalam segala hal, jika kalah dari wanita berarti dia lemah
  • Mengejek sesama laki-laki yang berpenampilan bersih/rapi
  • Menghina sesama laki-laki yang menggunakan skincare atau make-up
  • Menganggap jika laki-laki mesti membayar semua pengeluaran kencan
  • Menganggap bahwa laki-laki harus menyukai sepak bola

Efek negatif toxic masculinity pada mental dan emosi

Dapat dilihat bahwa norma-norma yang mengatur mengenai bagaimana seharusnya laki-laki bersikap dan berperilaku dapat menyebabkan munculnya toxic masculinity. Dengan adanya toxic masculinity, menyebabkan munculnya krisis identitas ketika laki-laki mencoba untuk mencapai maskulinitas yang ideal, dan kemudian dapat memberikan efek negatif pada mental dan emosi mereka, seperti:

  • Menampilkan emosi yang diredam atau tidak didengar
  • Menunjukkan kurangnya rasa empati
  • Mengalami agresi yang cenderung bertahan lama
  • Terlibat dalam perilaku kasar terhadap orang yang
  • Mengalami diagnosis penyakit mental yang lebih
  • Mendapatkan diagnosis gangguan psikologis yang salah
  • Menghindari mencari bantuan dari profesional

*dilansir dari berbagai sumber

Editor: Yusham

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.