Toxic Parents: Lingkaran Setan Antara Anak dan Orang Tua

Shutterstock

“Kamu enggak bener banget sih jadi anak!”

Orang tua yang tidak dewasa secara emosional, mereka yang memproyeksikan emosi yang tak terkontrol itu kepada anak-anaknya sehingga menjadi pola perilaku negatif yang konsisten dalam kehidupan anak.

Psychology Today mengatakan, orang tua yang melakuan pola asuh toxic parents cenderung tidak memperlakukan anak-anak mereka dengan hormat sebagai individu. Orang tua cenderung enggan berkompromi dengan anak, dan tak bertanggung jawab atas perilaku mereka atau meminta maaf.

Hal tersebut perlu disadari penuh oleh para orang tua. Apakah selama ini telah merapkan pola asuh yang tepat? Bukan pola asuh yang ‘beracun’ lantas membunuh karekter anak.

Jenis toxic parents

Si Pengatur

Seakan merasa paling benar, mereka menggunakan rasa bersalah, manipulasi, dan bahkan “terlalu” membantu untuk mengarahkan kehidupan anak-anaknya.

Si Tidak Mengayomi

Hanya berfokus pada masalah mereka sendiri, mengubah anak-anak mereka menadi “orang dewasa mini” yang merawat mereka.

Si Pecandu

Kecanduan akan dunianya sendiri dan menyisakan sedikit waktu serta energi dalam tuntutannya menjadi orang tua.

Si Pelaku Pelecehan

Melakukan pelecehan seksual yang agresif menggoda secara terselubung kepada anak-anaknya.

Si Pelaku Kekerasan Fisik

Tidak mampu mengendalikan amarah, menyalahkan anak-anak mereka karena tidak dapat diukur dengan memberikan hukuman fisik.

Si Pelaku Kekerasan Verbal

Secara terang-terangan bicara kasar, menurunkan semangat anak-anak dengan terus merendahkan rasa kepercayaan diri mereka.


Cara yang bisa kamu lakukan untuk menghadapi toxic parents:

Menerapkan batasan antara diri sendiri dan orang tua

Untuk menerapkan batasan ini kamu mesti bersikap asertif; tegas dan percaya diri dalam berkomunikasi tanpa memancing respons negatif dari lawan bicara.

Alihkan pembicaraan ke arah positif

Misalnya, kamu bisa membahas pencapainmu atau mungkin menanyakan hal menyenangkan apa saja yang orang tuamu alami hari itu.

Carilah kesibukan di luar rumah

Kamu bisa menekuni hobi atau mempelajari hal yang belum kamu lakukan sebelumnya. Buatlah orangtuamu bangga sehingga mereka bisa mendukung apa yang kamu lakukan.

Sempatkan waktu untuk me time

Kamu bisa melakuakn me time dengan berbagai cara, misalnya mendengarkan musik, membaca buku, atau dengan staycation di hotel, pergi ke pantai atau gunung, atau sekadar menyendiri di taman dan menikmati suasana tenang. Hal ini akan membuat pikiran kamu lebih rileks.

Jangan memaksa untuk mengubah perilaku orang tua

Meski mereka salah, jangan memaksa mereka menjadi sosok ideal. Hal ini akan memancing keributan yang bisa membuat kamu frustrasi. Lebih baik kamu fokus untuk mengontrol diri saat merespons pembicaraan orang tua agar tidak tersinggung.


Sumber : Lingkar Psikologi

Editor : Yusham

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.