Menilik Polemik di Balik Fast Fashion yang Harus Anda Tahu

Trend fashion sejatinya selalu berubah-ubah setiap tahunnya. Banyaknya desainer hingga fashion enthusiast yang turut andil dalam pergantian trend ini. Hal ini menyebabkan banyak masyarakat yang berlomba-lomba untuk mengikuti trend yang ada tersebut, tanpa mereka sadari bahwa trend ini lambat laun merugikan diri sendiri dan juga alam sekitar.

Istilah ini biasa dikenal dengan fast fashion. Sesuai namanya yang berarti trend fashion yang cepat, fast fashion merupakan sebuah konsep yang diusung oleh para pelaku fashion untuk membuat trend pakaian secara cepat dalam jumlah yang banyak. 

Biasanya brand-brand yang mengusung konsep ini hanya mementingkan kuantitas dibandingkan kualitas pada barang yang mereka buat. Karena hanya mengandalkan kecepatan dan jumlah barang yang dapat diproduksi bukannya meningkatkan kualitas, maka mereka menggunakan bahan baku dengan kualitas yang tak terlalu bagus dan juga tak memperhatikan detail.

Di balik gesitnya produksi yang dilakukan, ternyata fast fashion memiliki segudang dampak negatif baik bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Salah satunya adalah melanggengkan perilaku konsumtif. Karena merasa ‘harus memiliki’ suatu barang, maka banyak masyarakat yang berlomba-lomba membeli produk fashion tertentu hanya karena ingin bukan karena membutuhkan.

Fast fashion pun sering dikritik para pegiat perlindungan lingkungan, hal ini dikarenakan limbah industri yang dibuang langsung tanpa adanya penyaringan yang baik dan membuat lingkungan menjadi tercemar. Seperti halnya dalam laporan dokumenter yang dibuat oleh RT Documentary. Laporan tersebut menyoroti banyaknya limbah tekstil di sekitar Sungai Citarum sebagai dampak dari fast fashion.

Dari sisi ketenagakerjaan, fast fashion memiliki polemiknya tersendiri. Banyaknya pabrik dari brand-brand besar dengan konsep ini yang mendapatkan gaji tak sebanding dengan apa yang mereka lakukan. 

Ironisnya, brand tersebut kerap kali membuat pabriknya di wilayah Asia terutama pada negara dengan pendapatan perkapita yang sedikit. Hal ini dikarenakan masyarakatnya akan mau-mau saja bekerja dengan upah di bawah minimum tersebut agar dapur mereka tetap ngebul.

Karena menimbulkan berbagai permasalahan, banyak orang yang menggalakan protes keras bagi konsep yang telah tercipta sejak tahun 1980-an tersebut. Hingga akhirnya pada tahun 2017-an seorang peneliti fashion bernama Kate Fletcher mengusulkan untuk adanya sebuah jawaban dari fast fashion. Yakni slow fashion dan circular fashion.

Kedua konsep tersebut dibuat untuk mengajak para pegiat fashion untuk mengusung konsep recyclable material dalam penggunaan bahan-bahannya. Serta mengajak masyarakat untuk tak melulu mengikuti trend yang ada.

Kategori:Fashion

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.